Pembahasan Agama Islam, Hukum Islam, Pendidikan dan Pengetahuan, Sosial Politik, Kata kata Bijak, Informasi Terbaru, Panduan dan Opini

Fakta Dasar Penulisan Ramadlan, Ramadan dan Ramadhan

Fakta Dasar Penulisan Ramadlan, Ramadan dan Ramadhan

Ramadlan ::  Fakta Dasar Penulisan Ramadlan, Ramadan dan Ramadhan
Kalau kita perhatikan banyak sekali masyarakat indonesia yang berbeda-beda dalam penulisan Ramadlan (رمضان) ada yang menulis Ramadlan, ada yang menulis Ramadan, ada pula yang menulis Ramadhan. lalu apa sih dasar pedoman perbedaan mereka dalam menulis رمضان?
Saya mencoba melacak untuk mencari tahu dasar penulisan mereka. dan mari kita lihat sama sama hasil penyelidikan saya.

1. Kelompok yang menulis رمضان dengan tulisan Romawi Ramadan, berdasarkan:
1-1. Qaidah Penulisan Sebagian Eropa.
Sebagian orang eropa menulis رمضان dengan tulisan Romawi atau latin menggunakan (D) saja, yaitu (RAMADAN).
2-1. Mengikuti Qaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) versi terbaru, yaitu Revisi 2009.

2. Kelompok yang menulis رمضان dengan tulisan romawi atau latin Ramadhan berdasarkan:
1-2. mengikuti Qaidah Sebagian Penulisan Eropa yang lain. karena versi Eropa ada yang menulis Ramadan dan ada pula yang menulis Ramadhan.
2-2. Mengikuti Orang lain tanpa tahu dasarnya, alias ikut-ikutan saja.
3-2. Mengikuti Penulisan Kaum Wahabi Indonesia, yang mana mereka memang sengaja menulis Ramadhan untuk menghapus penulisan para ulama' Nahdlatul Ulama' (NU).

3. Kelompok yang menulis رمضان dengan tulisan latin atau romawi Ramadlan berdasarkan:
1-3. Mengikuti Qaidah Pendekatan Transliterasi arab ke latin (indonesia) atau latin ke arab.
2-3. Mengikuti Qaidah yang sudah dibuat oleh EYD tempo dulu "Ejaan Rumi Bersama (ERB)" versi 1972 sampai Revisi 1987.
3-3. Mengikuti Qaidah yang sudah ditentukan oleh cendikiawan dan ulama' Nahdlatul Ulama'. dan anda juga bisa melihat bahwa Nahdlatul Ulama' menggunakan Qaidah pendekatan ini. karenanya dalam penulisan Nahdlatul Ulama' menggunakan DL dalam Transliterasi huruf ض
نهضة العلماء setelah di Transliterasi ke indonesia menjadi NAHDLATUL ULAMA', Bukan NAHDHATUL ULAMA' atau NAHDATUL ULAMA'.

Disini kita bisa melihat, metode dan Qaidah yang mana yang lebih sharih. dan kita sebagai Ummat Islam yang mempunyai akal yang sehat seharusnya bisa membedakan, mana yang patut diikuti, mana yang tidak patut.
kita adalah manusia yang mempunyai akal yang sehat, tidak seharusnya melakukan sesuatu, berbuat sesuatu hanya didasari ikut ikutan, apalagi hanya mengikuti golongan yang tidak jelas dan kurang baik.
Apakah kita sebagai muslim yang berakhlaq karimah pantas tidak menghormati apa yang sudah dilaksanakan oleh para ulama' pendahulu kita?
dan apakah kita sangat suci sehingga tidak mengindahkan dan tidak memperhatikan metode pendekatan yang baik dalam bahasa arab?!.
Walaupun pada dasarnya bahasa arab tidak bisa terwakili oleh huruf ajam (Selain Arab), namun tetap saja ada qaidah yang lebih dekat dan sharih dari qaidah yang lain. dan sekarang semua terserah anda. anda bisa melakukan sesuatu tanpa anda fikir dan tanpa menggunakan otak yang sudah diberikan Allah kepada anda. atau anda melakukan sesuatu sesuai dengan ilmu yang bisa anda cerna dengan akal yang sudah Allah karuniakan kepada anda.


bagikan artikel ini ke › Facebook Twitter Google+
Posted by

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.